JEALOUS GUY
Halaman : 10 sampai 14
……..semua kegundahan bermula dari peragaan busana Sandro Harris, mantan
asistennya yang kini mandiri dan eksis sebagai perancang. Pagelaran itu
beberapa saat lalu disaksikan oleh Michael di ball room Hotel Borobudur
Jakarta. Yang membuatnya gundah, akhirnya Sandro bisa menyelenggarakan
peragaan busana tunggal se-level dirinya. “Ah, belum lama rasanya Sandro
kuajari membuat pola, sekarang ia sudah bisa membuat peragaan busana
dan sukses. Dasar lonte,” umpatnya dalam hati.
Michael mengambil
Coca Cola kaleng dari kulkas mini dekat ranjangnya. Ia dengan cepat
mereguknya setelah membuka segelnya. Cairan Coca Cola yang masuk ke
dalam tubuhnya dirasakan menyamankan kondisi tubuhnya yang
uring-uringan. Lalu ia memindahkan tubuhnya ke sofa raksasa berwarna
coklat muda. Perasaan rileks pun semakin didapatkan. Meski otaknya tak
bisa membuang terhadap peragaan busana Sandro. Ingin rasanya ia gantung
diri.
Apa yang dilakukan oleh Sandro merupakan modus operandi
yang ditirunya mentah-mentah darinya. Rancangan busana Sandro
bahan-bahannya lokal. Namun dengan kecerdasan yang diajarkan oleh
Michael, bahan-bahan itu menjelma menjadi rancangan yang luar biasa.
Bahkan dengan sentuhan sana-sini, kesempurnaan yang didapatkan diakui
Michael melebihi karya-karyanya. Ada beberapa rancangan Sandro yang
sebenarnya konsepnya Michael, tapi belum sempat direalisasi namun sudah
keburu dibuat oleh Sandro. “Itu jelas-jelas pembajakan. Dasar ! Anjing
tak tahu diri,” lagi-lagi Michael menyumpah dalam hati.
Dengan sedikit memainkan kata-kata bersayap melalui press release,
Sandro bahkan dengan pintar membuat seolah-olah bahan – bahan yang
dibuat untuk rancangannya berasal dari Milan atau Paris. Sandro memang
tak menggunakan manik-manik swarovski, tapi dengan pintar Sandro
mengesankan permata yang menempel di busananya swarovski, padahal cuma
manik-manik dari Taiwan. Bukan dari Austria. Dasar !
Tak pelak
rancangan-rancangannya malam itu laku bak kacang goreng, bahkan dengan
harga ratusan juta rupiah. Yang lebih menyakitkan hati Michael, beberapa
orang yang tertarik atau membeli rancangan Sandro terdiri dari istri
pengusaha atau pejabat merupakan langganannya. Sudah bisa dipastikan,
Sandro telah menghubungi para langganannya untuk datang pada malam
pagelaran busana rancangannya.
Dalam hati diakui Michael,
Sandro berani memangkas hal-hal yang tak perlu, namun karyanya tetap
menjadi eksklusif dan mahal sebagai adibusana. Michael benar-benar
merasa dungu dan mengutuki dirinya sendiri. Tanpa sadar air matanya
berlinang. Menangis. Suara tangisnya pun keluar, seperti suara orang
cegukan. Diambilnya sapu tangan dari kantong celananya, dan
dipijat-pijat ke air matanya yang membahasahi pipinya.
“Kenapa jadi begini?,” suaranya lirih, terdengar memelas.
Ia merasa martabatnya jatuh. Ia masih ingat saat Sandro merengek-rengek
padanya untuk mendirikan rumah mode sendiri atas namanya sendiri.
Sudah ratusan kali Sandro merengek padanya tapi selalu ditolak oleh
Michael, sampai akhirnya ia mengijinkan –meski dengan hati terpaksa.
Ya, terpaksa. Bukan cuma karena Michael nantinya takut bersaing dengan
Sandro. Tak sesederhana itu. Masalahnya, Sandro adalah juga kekasihnya
yang sudah tahunan menemani Michael. Bahkan banyak orang dekatnya yang
menyebut Sandro ‘istri’ Michael. Yang paling ditakutkan, kalau sampai ia
mengijinkan, lalu Sandro mandiri dan lari darinya. Ketakutan itu
sekarang benar-benar menjadi kenyataan. Sebagai kekasih, Sandro lepas
dari hatinya. Sebagai perancang, Sandro sukses. Bahkan sejajar dengan
nama Michael.
Michael benar-benar menyesali diri hingga ke
tulang sumsum. Kenapa dulu mengijinkan Sandro lepas darinya? Mestinya
sejak dilepas, dan ketika Sandro untuk pertama kalinya menggelar
paragaan busana, Michael menjegal Sandro dengan segala cara. Sehingga
memaksa Sandro bergabung kembali dengannya. Tapi semua sudah jadi bubur.
Kini Sandro sanggup membuat pagelaran rancangan busana dalam rangka
ulangtahun rumah modenya yang ke tiga. Sekali lagi diakui oleh Michael,
pagelaran semalam yang dilihatnya benar-benar sukses dan agung, itu
menyakitkan Michael.
Berat rasanya kepala Michael memikirkan
semuanya. Karenanya itu ia dingin saja ketika pintu kamarnya ada yang
membuka dari luar. Ia tetap melototi televisi. Yang membuka pintu itu
lelaki berusia 27 tahun. Begitu masuk kamar, tatapannya langsung kearah
Michael. Lelaki itu memiliki wajah yang tak jauh dari Sandro. Bentuk
mukanya seperti daun sirih, lancip didagu. Berkumis meski tak tebal.
Agak kasar wajahnya. Berkulit hitam tapi manis. Badannya atletis.
Jidatnya sempit. Seluruh rambutnya yang ikal ditarik kebelakang. Ia
kekasih Michael sekarang, sejak dua setengah tahun belakangan. Meski
belum sepenuhnya bisa mengganti kedudukan Sandro, tapi Michael sudah
jatuh hati pada lelaki bernama Benny Rahardi itu.
Usai
menutup kembali pintu kamar, Benny meletakkan kunci mobil Alphard di
meja televisi. Ia melihat jam tangannya, sudah pukul 12 malam lewat.
Benny tahu persis, televisi yang sedang ditonton Michael sebenarnya tak
dibutuhkan. Maka ia matikan, tanpa harus minta ijin Michael.
Michael tak protes, dan tak memberi reaksi. Justru raut wajahnya
menunjukkan rasa terima kasih kepada Benny telah mematikan televisi.
Rasa terima kasih itu ditangkap dengan jelas oleh Benny. Benny sadar
betul, belum saatnya ia menenangkan Michael dengan kata-kata. Beberapa
saat lalu, selama perjalanan dari menyaksikan peragaan busana Sandro,
didalam mobil Michael tak henti-hentinya nyerocos menjelek-jelekkan
Sandro. Benny sadar, Michael cuma butuh pelepasan uneg-uneg. Benny
hanya menjadi pendengar yang baik.
“Kau perlu minum, Mas,”
kata Benny pada Michael sambil menuju ke mini bar di kamar itu. Mini bar
yang banyak dihiasi minuman-minuman beralkohol branded. Ia tak merasa
perlu menunggu jawaban dari Michael ‘ya’ apa ‘tidak’. Langsung saja
menuang whisky dengan beberapa es batu kedalam gelas arsiran bunga.
Lalu Benny memasang CD milik Prince. Lagu ‘Purple Rain’ mengalun. Itu
lagu kesukaan Michael, lagu ‘kebangsaan’ Michael itu membuat perasaan
sebal dalam dirinya mulai sirna. Ditambah lagi oleh tenggakan whisky
yang diberikan Benny. Apa yang dilakukan Benny dulu juga dilakukan oleh
Sandro. Namun kini Sandro jadi kompetitornya.
“Mas, sebaiknya
bobo,” tutur Benny pelan. Benny menepuk-nepuk bantal yang hendak
ditiduri Michael, sebelum akhirnya merebahkan tubuh Michael dihamparan
sprei merah muda. Dalam situasi ‘darurat’ seperti itu, Benny tak merasa
perlu mengganti celana Michael dengan piyama. Yang penting Michael tidur
dulu saja.
Benny mencium bibir Michael. Bibirnya dirasakan Benny
beraroma whisky. Tapi tak mengurangi ketulusan ciuman Benny yang nampak
sangat hangat. Disambut dengan pelukan oleh Michael sebagai tanda
terima kasih………….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar