Senin, 30 April 2012

CUPLIKAN NOVEL ‘GAYAGAY’ KARYA DANN JULIAN

JEALOUS GUY
Halaman : 10 sampai 14

……..semua kegundahan bermula dari peragaan busana Sandro Harris, mantan asistennya yang kini mandiri dan eksis sebagai perancang. Pagelaran itu beberapa saat lalu disaksikan oleh Michael di ball room Hotel Borobudur Jakarta. Yang membuatnya gundah, akhirnya Sandro bisa menyelenggarakan peragaan busana tunggal se-level dirinya. “Ah, belum lama rasanya Sandro kuajari membuat pola, sekarang ia sudah bisa membuat peragaan busana dan sukses. Dasar lonte,” umpatnya dalam hati.


Michael mengambil Coca Cola kaleng dari kulkas mini dekat ranjangnya. Ia dengan cepat mereguknya setelah membuka segelnya. Cairan Coca Cola yang masuk ke dalam tubuhnya dirasakan menyamankan kondisi tubuhnya yang uring-uringan. Lalu ia memindahkan tubuhnya ke sofa raksasa berwarna coklat muda. Perasaan rileks pun semakin didapatkan. Meski otaknya tak bisa membuang terhadap peragaan busana Sandro. Ingin rasanya ia gantung diri.

Apa yang dilakukan oleh Sandro merupakan modus operandi yang ditirunya mentah-mentah darinya. Rancangan busana Sandro bahan-bahannya lokal. Namun dengan kecerdasan yang diajarkan oleh Michael, bahan-bahan itu menjelma menjadi rancangan yang luar biasa. Bahkan dengan sentuhan sana-sini, kesempurnaan yang didapatkan diakui Michael melebihi karya-karyanya. Ada beberapa rancangan Sandro yang sebenarnya konsepnya Michael, tapi belum sempat direalisasi namun sudah keburu dibuat oleh Sandro. “Itu jelas-jelas pembajakan. Dasar ! Anjing tak tahu diri,” lagi-lagi Michael menyumpah dalam hati.

Dengan sedikit memainkan kata-kata bersayap melalui press release, Sandro bahkan dengan pintar membuat seolah-olah bahan – bahan yang dibuat untuk rancangannya berasal dari Milan atau Paris. Sandro memang tak menggunakan manik-manik swarovski, tapi dengan pintar Sandro mengesankan permata yang menempel di busananya swarovski, padahal cuma manik-manik dari Taiwan. Bukan dari Austria. Dasar !

Tak pelak rancangan-rancangannya malam itu laku bak kacang goreng, bahkan dengan harga ratusan juta rupiah. Yang lebih menyakitkan hati Michael, beberapa orang yang tertarik atau membeli rancangan Sandro terdiri dari istri pengusaha atau pejabat merupakan langganannya. Sudah bisa dipastikan, Sandro telah menghubungi para langganannya untuk datang pada malam pagelaran busana rancangannya.

Dalam hati diakui Michael, Sandro berani memangkas hal-hal yang tak perlu, namun karyanya tetap menjadi eksklusif dan mahal sebagai adibusana. Michael benar-benar merasa dungu dan mengutuki dirinya sendiri. Tanpa sadar air matanya berlinang. Menangis. Suara tangisnya pun keluar, seperti suara orang cegukan. Diambilnya sapu tangan dari kantong celananya, dan dipijat-pijat ke air matanya yang membahasahi pipinya.

“Kenapa jadi begini?,” suaranya lirih, terdengar memelas.

Ia merasa martabatnya jatuh. Ia masih ingat saat Sandro merengek-rengek padanya untuk mendirikan rumah mode sendiri atas namanya sendiri. Sudah ratusan kali Sandro merengek padanya tapi selalu ditolak oleh Michael, sampai akhirnya ia mengijinkan –meski dengan hati terpaksa.

Ya, terpaksa. Bukan cuma karena Michael nantinya takut bersaing dengan Sandro. Tak sesederhana itu. Masalahnya, Sandro adalah juga kekasihnya yang sudah tahunan menemani Michael. Bahkan banyak orang dekatnya yang menyebut Sandro ‘istri’ Michael. Yang paling ditakutkan, kalau sampai ia mengijinkan, lalu Sandro mandiri dan lari darinya. Ketakutan itu sekarang benar-benar menjadi kenyataan. Sebagai kekasih, Sandro lepas dari hatinya. Sebagai perancang, Sandro sukses. Bahkan sejajar dengan nama Michael.

Michael benar-benar menyesali diri hingga ke tulang sumsum. Kenapa dulu mengijinkan Sandro lepas darinya? Mestinya sejak dilepas, dan ketika Sandro untuk pertama kalinya menggelar paragaan busana, Michael menjegal Sandro dengan segala cara. Sehingga memaksa Sandro bergabung kembali dengannya. Tapi semua sudah jadi bubur. Kini Sandro sanggup membuat pagelaran rancangan busana dalam rangka ulangtahun rumah modenya yang ke tiga. Sekali lagi diakui oleh Michael, pagelaran semalam yang dilihatnya benar-benar sukses dan agung, itu menyakitkan Michael.

Berat rasanya kepala Michael memikirkan semuanya. Karenanya itu ia dingin saja ketika pintu kamarnya ada yang membuka dari luar. Ia tetap melototi televisi. Yang membuka pintu itu lelaki berusia 27 tahun. Begitu masuk kamar, tatapannya langsung kearah Michael. Lelaki itu memiliki wajah yang tak jauh dari Sandro. Bentuk mukanya seperti daun sirih, lancip didagu. Berkumis meski tak tebal. Agak kasar wajahnya. Berkulit hitam tapi manis. Badannya atletis. Jidatnya sempit. Seluruh rambutnya yang ikal ditarik kebelakang. Ia kekasih Michael sekarang, sejak dua setengah tahun belakangan. Meski belum sepenuhnya bisa mengganti kedudukan Sandro, tapi Michael sudah jatuh hati pada lelaki bernama Benny Rahardi itu.

Usai menutup kembali pintu kamar, Benny meletakkan kunci mobil Alphard di meja televisi. Ia melihat jam tangannya, sudah pukul 12 malam lewat. Benny tahu persis, televisi yang sedang ditonton Michael sebenarnya tak dibutuhkan. Maka ia matikan, tanpa harus minta ijin Michael.

Michael tak protes, dan tak memberi reaksi. Justru raut wajahnya menunjukkan rasa terima kasih kepada Benny telah mematikan televisi. Rasa terima kasih itu ditangkap dengan jelas oleh Benny. Benny sadar betul, belum saatnya ia menenangkan Michael dengan kata-kata. Beberapa saat lalu, selama perjalanan dari menyaksikan peragaan busana Sandro, didalam mobil Michael tak henti-hentinya nyerocos menjelek-jelekkan Sandro. Benny sadar, Michael cuma butuh pelepasan uneg-uneg. Benny hanya menjadi pendengar yang baik.

“Kau perlu minum, Mas,” kata Benny pada Michael sambil menuju ke mini bar di kamar itu. Mini bar yang banyak dihiasi minuman-minuman beralkohol branded. Ia tak merasa perlu menunggu jawaban dari Michael ‘ya’ apa ‘tidak’. Langsung saja menuang whisky dengan beberapa es batu kedalam gelas arsiran bunga.
Lalu Benny memasang CD milik Prince. Lagu ‘Purple Rain’ mengalun. Itu lagu kesukaan Michael, lagu ‘kebangsaan’ Michael itu membuat perasaan sebal dalam dirinya mulai sirna. Ditambah lagi oleh tenggakan whisky yang diberikan Benny. Apa yang dilakukan Benny dulu juga dilakukan oleh Sandro. Namun kini Sandro jadi kompetitornya.

“Mas, sebaiknya bobo,” tutur Benny pelan. Benny menepuk-nepuk bantal yang hendak ditiduri Michael, sebelum akhirnya merebahkan tubuh Michael dihamparan sprei merah muda. Dalam situasi ‘darurat’ seperti itu, Benny tak merasa perlu mengganti celana Michael dengan piyama. Yang penting Michael tidur dulu saja.
Benny mencium bibir Michael. Bibirnya dirasakan Benny beraroma whisky. Tapi tak mengurangi ketulusan ciuman Benny yang nampak sangat hangat. Disambut dengan pelukan oleh Michael sebagai tanda terima kasih………….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar